Kecamatan Sembalun merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Jika di Malang ada Kota Batu dan di Jawa Tengah ada Dieng, maka di Lombok ada Sembalun. Selain pemandangan alam yang asri dan memukau, banyak perkebunan dan hasil alam yang dapat dijumpai, diantaranya strawberry, wortel, selada, bawang putih dan juga kentang. Jenis kentang yang dibudidayakan oleh petani Sembalun adalah kentang sayur yang berwarna kekuningan dan kentang industri yang berwarna putih.
Pada tahun 2022, Tim Unram mendapatkan dana penelitian skema Matching Fund Kedaireka yang diketuai oleh Ir. Aluh Nikmatullah, M. Agr. Sc., Ph. D. Kegiatan ini dilaksanakan melalui diseminasi teknologi perbenihan, budidaya dan pengolahan kentang industri. Ketua tim mengungkapkan khusus untuk kegiatan pengolahan kentang ini melibatkan kelompok wanita tani pelaku UMKM untuk pengolahan umbi kentang yang mutunya tidak terserap industri dan membangun wirausaha lokal. “Diketahui bahwa hampir 30% hasil panen kentang tidak dapat diserap oleh industri, hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya ukuran yang terlalu besar, terlalu kecil atau terkena goresan cangkul saat pemanenan, sehingga perlu dilakukan pengolahan menjadi berbagai macam produk”. ujarnya.

Kegiatan pendampingan pengolahan kentang industri menjadi berbagai macam produk diantaranya ruti kentang, kriuk kentang, stik kentang, donat bomboloni dan kentang panggang. Kegiatan ini dipandu oleh anggota Tim Matching Fund yaitu Ihlana Nairfana, S. TP., M. Si yang merupakan dosen Teknologi Pangan dari Universitas Teknologi Sumbawa. Dua Kelompok Wanita Tani (KWT) yaitu KWT Segara Muncar asal Desa Sajang dan KWT Sembalun mengikuti kegiatan pendampingan ini selama 5 hari tanggal 23-27 Oktober 2022 yang bertempat di Aula Sembalun Agro Hotel dan Resto. Antusiasme peserta terlihat sangat jelas selama kegiatan. “Kami sangat senang bisa dapat pelatihan seperti ini, sebelumnya kami hanya pernah mengolah kentang menjadi keripik, tidak pernah terpikir dapat diolah menjadi banyak macam produk” ujar Hulpa Andriani, salah satu peserta dari KWT Segara Muncar. Aneka macam produk olahan direncanakan untuk menjadi oleh-oleh Khas Sembalun.

Tentu saja agar produk-produk olahan dapat dipasarkan lebih luas, peserta perlu dibekali dengan keterampilan tatacara pengolahan pangan yang baik, perizinan layak edar produk dan perhitungan analisis bisnis. Oleh karena itu, pada tanggal 28-29 Oktober 2022, Ihlana Nairfana, S. TP., M. Si menyampaikan prospek pengembangan produk olahan kentang untuk pasar Indonesia. Pada kesempatan ini dijelaskan mengenai karakteristik bahan baku kentang dan nutrisi yang dikandung di dalamnya, penanganan bahan baku dan bahan pembantu, metode-metode pengolahan dan contoh jenis-jenis produk olahan yang dapat dibuat.

Setelah itu diadakan pelatihan Cara Pengolahan Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) dan Prosedur Pengajuan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) disampaikan oleh Heru Biantara, A. Md. Far dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur. Pada penyampaiannya, Heru menjelaskan aspek dalam CPPB-IRT, ruang lingkup pemeriksaan sarana produksi, memberikan contoh praktek pengolahan yang baik dan tidak baik, serta memaparkan persyaratan pengusulan PIRT. Sebagai output dari pelatihan ini, semua peserta mendapatkan sertifikat penyuluhan keamanan pangan, yang nantinya digunakan sebagai salah satu persyaratan mutlak untuk mendaftarkan izin PIRT.

Materi pelatihan lainnya disampaikan oleh Heldy Sardianto, ST., M.M.Inov dari Balai Kemasan Produk Daerah, Dinas Perindustrian Nusa Tenggara Barat. Peserta pelatihan diberikan penjelasan mengenai fungsi dan jenis kemasan, peraturan pelabelan dan pemberian merek dagang, regulasi kemasan pangan, konsep packaging dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengemasan, khususnya pengemasan produk kentang. Pada kesempatan ini, Heldy juga memberikan demonstrasi penggunaan mesin vacuum sealer kepada peserta. Satu catatan pada sesi ini adalah perlunya dibuat merek dagang dengan nama yang unik dan khas. Heldy mengungkapkan “merek dagang yang akan dibuat harus unik dan baru, belum terdaftar di DJKI. Sebutan ruti kentang adalah nama jenis produk olahan, perlu dibuatkan merek agar dapat dikenal oleh pasar”, tuturnya.

Materi terkait analisis kelayakan usaha disampaikan kepada peserta oleh Tomy Dwi Cahyono, S. Kom., MM, dosen Bisnis Digital dari Universitas Teknologi Sumbawa. Pada kesempatan ini, Tomy membuatkan aplikasi digital dengan nama “DigiSembalun” untuk pencatatan harian usaha, sehingga nantinya UMKM ini tidak perlu mencatat penjualan harian secara manual. Selain itu, melalui aplikasi ini, peserta dapat menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dan proyeksi keuntungan hanya dalam hitungan menit. Dengan begitu, UMKM dapat memprediksikan harga jual produk setelah mempertimbangkan seluruh biaya dan penyusutan. Aplikasi ini diserahterimakan untuk dipergunakan peserta membangun bisnis barunya.