Mataram, Universitas Mataram – Universitas Mataram (Unram) menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor Unram, Prof. Dr. H. Lalu Husni, SH., M.Hum., dan Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria, SP, M.Si., di Raja Hotel, Kuta Mandalika, Kamis, 20 Januari 2021.

Penandatanangan MoU itu juga diisi dengan sesi berbagi antara Rektor IPB dengan unsur pimpinan Unram yang hadir. Rektor Unram, Prof. H. Lalu Husni dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Rektor IPB atas kesempatannya saat hadir di NTB untuk menjalin kerja sama dengan Unram. Ia juga meminta Rektor IPB berbagi mengenai program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka (MBKM) dan capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) di IPB.

Ia juga menyampaikan, Unram saat ini mengelola Sembilan fakultas dan satu program pascasarjana, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 34.287 orang yang tersebar di 63 program studi.

“Tadi juga sempat juga diskusi (dengan Rektor IPB) undang-undang mensyaratkan minimal mahasiswa miskin sebanyak 20 persen, tapi di Unram dan IPB mencapai lebih dari 50 persen. Mudah-mudahan dengan kesamaan dari sisi itu bisa kita belajar banyak nanti khususnya untuk mengejar ketertinggalan kita dalam capaian indikator kinerja utama maupun capaian yang lain, karena IPB sudah masuk peringkat 500 dunia,” ujar Husni.

Seusai sambutan Rektor Unram, dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Unram dan IPB. Setelah sesi foto, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi berbagi atau sharing session dari Rekor IPB, Prof. Arif Satria terkait IKU dan MBKM di IPB. Prof. Arif Satria mengatakan, terkait MBKM dan IKU, bahwa memang saat ini menghadapi situasi berbeda. “Situasi yang kita alami tahun 2020, beda dengan hari ini. Karena itu, hal yang sangat penting, bagaimana kita merespon hal-hal perubahan ini, khusunya revolusi industri 4.0,” ujarnya.

Arif menjelaskan, pada tahun  2018 pihaknya mulai menata kurikulum. Di tahun 2018 dan 2019, ia mengirim hampir 500 dosen IPB ke Universitas Terbuka (UT) untuk belajar mengenai pembelajaran online. “Awalnya banyak dosen yang mempertanyakan kebijakan itu, pada tahun 2020 ada Covid-19, baru teman-teman (dosen) merasakannya, baru dibilang, ‘untung belajar pembelajaran online.’ Sudah belajar pun (masih) gelagapan, apalagi tidak belajar,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut bagian dari desain kurikulum IPB. Kuliah online sudah dirancang pihaknya sejak tahun 2018. Hal yang paling substansial, pihaknya fokus menghasilkan outcome. Karena ia menyadari orang-orang yang bisa bertahan atau survive di tengah perubahan yaitu orang yang mampu merespons perubahan. Dan mampu merespons perubahan adalah orang yang cepat belajar, lincah belajarnya, dan punya kemampuan tinggi untuk menjadi pembelajar sejati.

“Ini problem bangsa, soal mindset, soal jiwa belajar dan, future practice. Di era ini, dibutuhkan kemampuan kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan sebagainya. Ketika kita mau mendesain skill (kemampuan), agar lulusan kita punya kriteria mindset bagus, jiwa pembelajar, berorientasi future practice,” jelasnya.

Oleh karena itulah, Prof. Arif Satria menekankan, pihaknya mencoba mendesain kurikulum di IPB untuk menghasilkan lulusan yang bukan semata-mata punya nilai bagus, tetapi punya pola pikir bagus dan jiwa pembelajar. “Karena seseorang yang sukses itu yang punya jiwa pembelajar, orang yang kreatif dan memiliki imajinasi dan skill-skill yang diperlukan. Tidak bisa hanya didapatkan dari perkuliahan. Karena itu perkuliahan harus dimodifikasi,” jelasnya.

Dalam sesi berbagi tersebut dilanjutkan juga dengan diskusi dan tanya jawab antara Rektor IPB dan unsur pimpinan di Unram.